Memori Tak Hilang
Dia
selalu datang ke dalam mimpi yang tak pernah hilang, ketika dia mencari di
antara rerumputan di padang yang luas, dia hanya menemukan dirinya sendiri
dengan kenangan yang selalu dia ingat maka dia langsung terbangun dari mimpi
yang terlalu menyakitkan hati untuk selalu di ingatnya. Begitulah Lisa, gadis
SMA yang masih mengingat tentang seseorang yang pernah di cintai, kisahnya
sungguh romantis hingga suatu ketika pacarnya Devin meninggalkan-nya begitu
saja seorang diri tanpa kepastian dan alasan yang jelas.
Tepat
Satu tahun kepergian sang pacar yang telah meninggalkannya sungguh selalu di
ingat kisah-kisah tentang kebersamaan dan perpisahan itu dimana waktu malam yg
sama ketika gerhana bulan dan dia termenung setelah bermimpi seperti itu, dia
memilih untuk menelepon teman yang selalu peduli dengan dia.
Lisa : Halo, aku butuh
bantuanmu..
Hanny : Ada apa??
Lisa : kembali termenung....
Hanny : Baiklah, aku
akan segera ke sana
Ketika
itu kondisi Lisa hanya sedang duduk di teras lantai 2 rumah nya yg terbuat dari
kayu marmer dengan warna hijau menghiasi rumahnya, gadis itu sungguh dalam
kondisi yang amat krisis dalam jiwa yang terhilang. Kemudian datanglah teman
karib nya dan mereka berbicara banyak hal tentang masalah satu tahun yg lalu yg
sampai saat ini masih belum bisa di Lupakan oleh gadis itu.
Tak
terasa waktu menunjukan pukul 2 pagi, ketika Hanny mulai terasa ingin tertidur
maka segeralah Hanny pulang ke rumahnya untuk kembali beraktivitas namun
sebelum dia pergi, dia hanya berpesan kepada teman baik nya.. “Lisa.. Masa Lalu
hanya dapat menjadi masa Lalu biarkan tetap jadi Masa Lalu.. Menataplah Masa
Sekarang untuk membuat Masa Depan menjadi Lebih Indah” dengan bertiupnya angin
pagi, mereka berpisah untuk sementara waktu di depan rumah Lisa yang hanya
berjarak 85 meter dari rumah Hanny.
Mereka
telah berteman Cukup Lama mulai sejak Satu SMP, tak terasa ketika mereka telah
menyelesaikan banngku SMP dan beranjak SMA, wajah Lisa yang lebih manis dan
putih seperti keturunan asing terlihat lebih cantik dan memukau teman-teman
lain khususnya teman lelaki dalam
angkatan SMA-nya.
Lisa
yang tidak pernah pacaran dengan siapapun dan hanya berteman dengan Hanny,
mulai membuka diri ketika dia mulai berpacaran dengan Devin, teman satu
kelasnya yang telah berhasil memasuki hati terdalamnya, saat itu mereka
menjalani hari-hari dengan bahagia, mereka juga lupa bagaimana mereka jatuh
cinta atau siapa yang jatuh cinta terlebih dahulu, waktu mereka hanya di
habiskan berdua saja seolah-olah hari-hari mereka ada di padang bunga yang
indah sambil menantap matahari terbenam namun semua itu berubah ketika kejadian
itu terjadi seakan-akan pemandangan di padang bunga yang indah tergantikan seketika dengan dinginya angin malam.
Ketika
Lisa selesai berpakaian dan akan berangkat ke sekolah, paman-nya hanya berkata
kepada keponakannya “Lis, Hidupmu masih Panjang, warnailah hidupmu dengan
sebuah senyuman”. Akhirnya ia sampai ke sekolah, perkataan singkat paman-nya
menjadi sebuah renungan berarti tentang perjalan kehidupan yang telah di lalui
dengan kebinggungan atas semua yang telah terjadi.
Ia
hanya menelusuri lorong sekolah sebelum akhirnya ia masuk ke dalam ruang kelas,
ketika pembelajaran di mulai hingga akhir dari pembelajaran dia hanya termenung
melihat semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Orangtua Lisa telah lama
meninggal 2 tahun silam ketika dia masih di bangku SMP, dia berasal dari
keluarga yang tidak mampu namun dia masih beruntung dapat menikmati pendidikan
berkat bantuan Kakak dari ayahnya.
Hingga
ia selesai belajar, ia tak pernah mampir kekantin hanya untuk bertegur sapa
atau bermain bahkan ia terlihat murung ketika ia berjalan menunju ke rumah,
harapan terlalu tipis, mengingat moment-moment ketika ibu nya menjemput pulang
sekolah, ada tawa dan canda ketika pulang sekolah namun tiba-tiba gerimis halus
turun membahasi baju seragam sekolahnya ia hanya dapat menatap ke langit dan
dalam hati berkata “... Aku hanya mengingat memori yang tak dapat ku Lupakan....”
lalu ia pun masuk ke rumah.
Bersambung....
Comments
Post a Comment